Melawan Berita Hoax: Pengguna Media yang Cerdas

Berita hoax belakangan telah mewabah terutama di media-media sosial. Sering kali kita mengetahui bahwa sebuah berita itu hoax, namun mengapa masih saja dibahas? Bagaimana caranya agar kita terhindar dari pembahasan berita hoax? Sebetulnya mudah saja untuk menghindar dari gosip, yakni abaikan saja. Jangan pernah membicarakan ataupun meresponnya.

Ibarat melupakan mantan dan move on. Ingin melupakan namun selalu terpancing untuk membicarakan maka akan sama saja. Sesuatu itu akan tetap eksis dalam benak pikiran kita. Kadang kita mudah “terpancing”, entah karena penasaran dengan alasan memberi penjelasan. pada akhirnya logika dalam pikiran kita menghilang dan sebaliknya dikuasai oleh intiusi dan emosi.

Keinginan yang semula ingin mengabaikan ataupun cuek karena menganggap tidak penting, malah justru selalu memikirkannya. Sesuatu itu makin eksis. Agar mudah dipahami, berikut contoh riil. Di media cetak maupun elektronik berita Jessica selalu diliput, sidang-sidangnya ditayangkan secara live, dibahas juga di medsos. Namun sejak media tidak lagi memberitakan lagi, kontroversi itupun lenyap bak ditelan bumi.

Beberapa orang memang menginginkan agar “sesuatu” jangan sampai dilupakan, misalnya. Atau suka mengungkit-ngungkit sesuatu yang harusnya ingin kita lupakan, maka biarkan saja, jangan pernah terlibat untuk membicarakannya (sekesal apapun kita). Sulit ? Mestinya tidak. Hanya saja saat ini eranya medsos. Hampir setiap hari kita terlibat bahkan menggunakan medsos. Sulit lepas dari godaan medsos.

Media, baik cetak maupun elektronik, baik resmi maupun tidak, memiliki pengaruh yang sangat besar. Mampu mengulik-ulik hati dan perasaan pembaca, pemirsa dan pengguna media.Ingatkan prinsipnya media bahwa bad news is a good news. Jangankan berita yang heboh, bahkan yang tidak heboh pun akan dibuat heboh dan akan dicari-cari sisi konversinya. Semakin banyak orang yang membahas semakin laris.

Padahal, media hendaknya juga menyadari bagaimana dampak dari pemberitaan, apakah positif atau malah negatif dan tidak produktif? Apakah mencerdaskan atau membuat masyarakat justru berpikir yang tidak-tidak. Apakah mempererat ┬ádan mempersatu bangsa atau malah memecah-belah dalam kelompok-kelompok kepentingan. Kadang media berdalih hanya memberitakan, paling dengan sedikit “bumbu-bumbu”.

Beberapa pemberitaan yang kadang mengundang rasa penasaran karena dikhawatirkan heboh dan menggemparkan, pada kenyataannya tidak berbuah apa-apa. Mengapa kita sering terpancing terhadap pemberitaan yang belum jelas kebenarannya? Buat apa perlu membahasnya? Semakin kita membicarakannya maka berita akan semakin eksis.

Lupakan saja, abaikan saja, tidak perlu dibicarakan atau dibahas. Maka disini dituntuk kedewasaan dan kebijaksanaan sebuah media, apakah sekadar menaikkan rating atau memang mencerdaskan masyarakat pemirsa (termasuk media sosial). Kunci dari kesuksesan komunikator (pembawa pesan) adalah adanya komunikan (penerima pesan).

Komunikator atau dalam hal ini media tidak akan berarti apa-apa tanpa pendengar, pembaca ataupun pemirsa. Jadilah pendengar, pembaca, pemirsa atau penguna media yang cerdas. Dapat memilih dan memilah setiap berita, mana yang positif dan negatif dan beritakan saja yang baik-baik.

Triyanti Nurhikmah